Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2011

Tari Kandagan


Tari Kandagan adalah tarian Sunda yang menggambarkan tentang keteguhan dan kegigihan wanita Sunda, demikian dijelaskan oleh pelatih tari dadakan saya ketika saya harus menari Tari Kandagan sebagai tuntutan pelajaran Ilmu Budaya Dasar.  Memang ada pilihan lain untuk bergabung dengan kelompok kesenian dari daerah yang disukai, namun karena saya dilahirkan dan dibesarkan di Jawa Barat maka saya memilih Budaya Sunda, walaupun kedua orang tua saya berasal dari daerah Sulawesi Utara.
Pada waktu itu kelompok kami menyajikan makanan-makanan khas sunda, seperti borondong, karedog, buah pisitan, dihiasi dengan hiasan janur khas Sunda.
Kami juga memainkan beberapa lagu dari alat musik Angklung dan Dog-dog. 
Bangga menjadi bagian dari pelestari Budaya Sunda walaupun hanya kecil artinya.

Tari Pendet


Tari Pendet adalah salah satu tarian Bali untuk pemujaan, dan pada awalnya merupakan penyambutan kehadiran para dewa ke dunia ini, namun para seniman mengubahnya menjadi tarian pembuka sebuah acara maupun ucapan selamat datang kepada para tamu.
Sampai kelas 1 SMA, menurut teman-teman saya di sekolah maupun di lingkungan rumah, mereka menilai saya bukanlah anak yang feminim.  Hingga pada perayaan 17 Agustus di sekolah, pada waktu itu saya kelas 1 SMA menarikan Tari Pendet bersama dua teman Lineke dan Emma.  Untuk pertama kalinya saya memakai pakaian daerah, kain merah darah khas bali dengan motif tenunan benang berwarna emas dan bagian dada dililit dengan kemben yang serasi.
Di akhir acara tersebut saya memainkan piano duet dengan sahabat saya bernama Elina Elizabeth. – Agustus 1988.
Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi. Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling. Pujulah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!  Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya! Mazmur 150:3-6

Tari Meuseukat


Tari Meuseukat dalah salah satu tarian tradisional dari daerah Aceh yang hanya dibawakan oleh para wanita, syair pengiring tarian ini berisikan puji-pujian kepada Allah, serta penyambutan kepada para tamu, sehingga tarian ini biasanya dilakukan pada awal suatu acara.
Untuk mengisi waktu luang dan membunuh kejenuhan selama bekerja di Aceh, maka saya mencari guru tari untuk mengajarkan sebuah tarian kepada saya.  Di Lorong Peuniti seorang dara yang rela meluangkan waktunya mengajari saya menari serta melantunkan syair dari tarian tersebut.  Karena tarian itu harus dilakukan paling sedikit oleh sembilan orang penari, maka Andi Karlina sang guru tari itu mengajak anak-anak kecil yang tinggal di sekitar rumahnya untuk ikut latihan menari bersama saya tiga kali seminggu selama empat bulan.
Walaupun tidak pernah mementaskan tarian tersebut di muka umum, namun  saya merasa puas dan senang karena berkesempatan secara langsung terlibat untuk menikmati budaya Aceh yang indah itu. – 2006.
Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Mazmur 149:3